Seorang pemimpi selalu membentuk moda diri melalui kata berjuang, lebih tinggi dari makna berusaha. Ia berperilaku seraya panglima di medan tempur dan berpikir akan sehebat Thariq bin Ziyad, sang legenda yang konon membawa tujuh ribu tentara ke daratan Spanyol dan membakar seluruh perahu agar tidak bisa kembali pulang, hingga tersisa dua pilihan antara menang atau binasa.
Bertindak demikian sangat baik, sebagaimana pengarang novel asal Skotlandia, Samuel Smiles, memandang ada sebuah siklus dalam tubuh manusia. Ia mengatakan, “tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib”. Namun seorang pemimpi perlu memahami, bila menggapai cita-cita hanya berawal tindakan semata, perlahan-lahan gerakan tersebut akan futur.
Sejatinya, tubuh manusia hanyalah sebuah interpretasi dari pikiran sadar maupun bawah sadar (nirsadar). Jika pikiran itu bertolak belakang dengan apa yang hendak dicapai, maka gerak tubuh pun akan berperilaku serupa.
Tentu setiap orang dapat mengendalikan pikiran sadar dengan mudah. Ia mampu memilih sesuatu berdasarkan analisa, lalu bertindak sesuai keputusannya. Akan tetapi berbeda dengan nirsadar, pikiran ini bekerja setiap saat dan luput dari pengawasan.
Nirsadar merekam/menanam ‘nilai’ hasil dari pengalaman seseorang, baik yang bersifat positif maupun negatif. Nilai ini memengaruhi berbagai aspek dalam diri yang kemudian mendorong perilaku. Menurut pakar neurologist, nirsadar berpotensi memengaruhi hingga 88% dibandingkan pikiran sadar yang hanya 12%.
Sebab itu, memaksa tindakan untuk mencapai keinginan akan menjadi persoalan apabila nirsadar menanam nilai yang tidak sejalan.
Sebelum mewujudkan cita-cita, alangkah bijaknya melakukan perenungan diri. Berbicara jujur pada hati sembari mendalami, “apakah saya sudah pantas memperoleh derajat kehidupan seperti yang didambakan?” Apabila masih muncul keraguan, terima dengan lapang dada (memaafkan) dan sampaikan pada yang Maha Kuasa. Hal ini merupakan tindakan ‘menetralisasi diri’ dari mental negatif yang telah mengendap.
Berserah diri kepada Sang Pencipta dapat mengantarkan hati pada ketenangan. Ketenangan perasaan ini mampu memancarkan gelombang otak alpha dan membuka Recticular Activating System (RAS) atau bagian otak yang berfungsi untuk memfilter informasi masuk dan mengendap dalam pikiran bawah sadar. RAS dapat disebut juga katup antara pikiran sadar dan nirsadar.
Ketika RAS terbuka merupakan kesempatan untuk menanam nilai baru ke dalam pikiran bawah sadar, sebagai halnya praktisi Neuro-Linguistic Programming (NLP) senantiasa memanfaatkan pikiran nirsadar melalui afirmasi untuk memperbaiki perilaku.
Erbe Sentanu melalui buku Quantum Ikhlas berpendapat, bahwa berusaha menggapai suatu harapan hanya dengan tindakan (goal setting) akan melahirkan kelelahan. Menurutnya, manusia harus mentransformasi diri dengan melibatkan hati dan Tuhan (goal praying), sehingga melahirkan daya/energi yang tinggi untuk meraih cita-cita.
Sudah seyogianya seorang pemimpi memulai segala sesuatu dari niat dan pikiran yang jernih. Sejatinya, hati dan akal menjadi pembeda antara gerak manusia dan robot yang bergerak secara teratur.


Keren..
BalasHapusTerima kasih.
Hapus