Kerap kali kamar seorang pemimpi sesak oleh hasrat. Ia menghias dinding dengan gambar atau kata masa depan sebagai alarm tujuan hidup. Ia berdalih bahwa disiplin adalah kunci sukses menjemput cita-cita, lalu memprogram tubuhnya menjadi robot yang bertindak secara teratur.
Seorang pemimpi selalu membentuk moda diri melalui kata berjuang, lebih tinggi dari makna berusaha. Ia berperilaku seraya panglima di medan tempur dan berpikir akan sehebat Thariq bin Ziyad, sang legenda yang konon membawa tujuh ribu tentara ke daratan Spanyol dan membakar seluruh perahu agar tidak bisa kembali pulang, hingga tersisa dua pilihan antara menang atau binasa.
Bertindak demikian sangat baik, sebagaimana pengarang novel asal Skotlandia, Samuel Smiles, memandang ada sebuah siklus dalam tubuh manusia. Ia mengatakan, “tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib”. Namun seorang pemimpi perlu memahami, bila menggapai cita-cita hanya berawal tindakan semata, perlahan-lahan gerakan tersebut akan futur.
